want to know the previous story?
"Liv, kamu kenapa nangis sih?"
Bodoh! Alfan benar-benar bodoh! Dan itu pertanyaan terbodoh yang pernah kudengar! Oh haruskah aku menjawabnya?
"Perlu ku jawab?"
"Oh Liv, jadi karena aku? Kamu marah sama aku? Kamu cemburu sama aku? Kamu sakit hati karena aku?"
Aku membeku. Seluruh rasa yang tertahan dari tadi keluar begitu saja dalam sederet pertanyaan Alfan barusan. Sakit sekali. Rasanya, ingin mati saja.
"Kamu sudah tau hal itu Fan," jawabku lemah dan menyerah.
"Liv! Kamu sendiri yang bilang kalau kamu sudah bisa melupakanku. Kamu sendiri yang bilang kalau kamu sudah menemukan penggantiku. Kamu sendiri yang bilang kalau kamu sudah punya cowok. Iya kan Liv? Liv? Jawab aku!"
Alfan menggoncang-goncangkan bahuku. Sementara aku? Hanya memejamkan mataku sambil menahan rasa yang luar biasa sakitnya disini, di dadaku.
"Apa aku terlihat seperti orang yang sudah move on? Apa aku terlihat sudah punya pacar? Apa aku terlihat seperti itu Fan? Hah?"
"Tapi Liv, kamu sendiri yang bilang kalau..."
"Kamu percaya hal itu fan? Kamu percaya ucapanku saat itu fan? Sudah berapa lama sih kamu kenal aku? Segitu bodohnya ya kamu sampai tidak lagi bisa mendeteksi ucapanku?"
Alfan terdiam.
"Kalau aku sudah punya pacar, pasti dengan bangga akan ku kenalkan padamu Fan, ku bawa sampai di hadapanmu Fan, tapi sampai sekarang, apa aku pernah melakukan hal itu?"
Alfan masih terdiam. Menunduk.
"Sudahlah Fan, kamu sudah punya dia. Untuk apa masih peduli denganku? Pergi saja lah, atau kau mau aku yang pergi? Baiklah,"
"Kenapa Liv?"
Aku mendengar suara Alfan. Ini bukan nada suaranya yang tadi. Yang ini lebih terdengar dingin, mencekam, dan seperti ingin memangsaku bulat-bulat.
"Kenapa kamu lakuin hal ini Liv? Kenapa kamu pura-pura? Kalo aja waktu itu kamu jujur ke aku..."
"Sayangnya kata 'kalo aja' selalu datang terlambat Fan. Buat apa sih masih ungkit-ungkit masa lalu? Kamu menyesal karena aku nggak jujur sama kamu? Udah telat Fan, cerita kita sudah sampai pada ujungnya dan sudah memiliki ending,"
"Liv, tapi kenapa..."
"Kenapa? Kamu mau tau kenapa? Aku sudah muak Fan. Dunia ini sama sekali nggak berpihak kepadaku. Aku punya cerita. Kau juga punya cerita. Dunia ini selalu membantumu menyelesaikan ending ceritamu. Tapi tidak kepadaku. Dunia bahkan sama sekali nggak mau membantuku. Rasanya sakit. Nggantung. Punya kisah yang belum memiliki ending yang jelas. Aku capek Fan. Aku karang sendiri ceritaku. Aku ciptakan sendiri dari dunia khayalan dan imajinasiku sehingga jadilah cerita yang cuma kubuat-buat itu tadi. Dan semua orang percaya. Kamu pun percaya. Beres kan?"
Tangisku kembali meledak. Dan alfan lagi-lagi diam. Entah mengapa, disaat-saat seperti ini kelenjar air mataku sanggup memproduksi air sebanyak itu. Dan entah mengapa, aku jadi secengeng ini di hadapannya.
Lama. Kami dalam keheningan. Tak ada lagi yang berani buka suara. Aku ataupun Alfan, kami sama-sama bungkam. Entah sampai kapan, hingga akhirnya, Alfan mengakhiri semua ini.
"Maafkan aku Liv,"
No comments:
Post a Comment